Jumat, 30 Maret 2012

SEJARAH DESA PULAU GEMANTUNG



Suku Komering adalah satu klan dari Suku Lampung yang berasal dari Kepaksian Sekala Brak yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada sekitar abad ke-7 dan telah menjadi beberapa Kebuayan atau Marga. Nama Komering diambil dari nama Way atau Sungai di dataran Sumatera Selatan yang menandai daerah kekuasaan Komering.

Sebagaimana juga ditulis Zawawi Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek Komering: "Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, sajaman rik Tanoh Pagaruyung pemerintah Bunda Kandung, cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, sangon kok turun-temurun jak ninik puyang paija, cambai urai ti usung dilom adat pusako". Terjemahannya berarti "Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), sezaman dengan Ranah Pagaruyung pemerintah Bundo Kandung di Minang Kabau, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Brak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa".

Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya Marga Paku Sengkunyit, Marga Sosoh Buay Rayap, Marga Buay Pemuka Peliyung, Marga Buay Madang, Marga Semendawai (OKU) dan Marga Bengkulah (OKI). Di Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan.

Sejak abad pertengahan, Suku Komering, sama halnya dengan rumpun Melayu lainnya, menerima Islam sebagai sebuah agama dan kepercayaan. Kedatangan Islam itu melahirkan mitos. Mitosnya mengenai seorang panglima dari bala tentara Fatahilah, Banten, bernama Tan Dipulau, yang menjadi tamu di daerah Marga Semendawai Suku III. Ia datang menggunakan perahu menelusuri Sungai Komering. Tan Dipulau berlabuh dan menetap di daerah Marga Semendawai Suku III, tepatnya di Dusun Kuripan. Keturunan Tan dipulau membuka permukiman baru di seberang sungai atau seberang dusun Kuripan, yang disebut Dusun Gunung Jati. Selanjutnya, Marga Semendawai disebut keturunan Tan dipulau dari Dusun Kuripan. Sedangkan untuk di Marga Bengkulah, pembawa dan penyiar Islam adalah Moyang Tuan Syarif Ali dan Tuan Murarob yang berasal dari Banten dan dibantu oleh Tuan Tanjung Idrus Salam.

Tan dipulau dalam Bahasa Komering berarti 'Tuan di Pulau'. Makamnya, yang terletak di Dusun Kuripan, hingga kini masih terpelihara. Masyarakat Komering, khususnya marga Semendawai, sering berziarah kubur ke makam tersebut.

Mitos lain yang beredar dan merupakan sebuah kesalahan besar yang menyatakan bahwa asal-usul Suku Komering masih ada hubungannya dengan Suku Batak di Sumatera Utara, dimana dikatakan bahwa Suku Komering dengan Suku Batak Sumatera Utara dikisahkan masih bersaudara, kakak-beradik yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang Suku Komering, dan sang adik ke utara menjadi nenek moyang Suku Batak. Apa yang mendasari pendapat para penulis tersebut, apakah hanya sebatas dari sumber cerita rakyat yang tidak mempunyai bukti kongkrit dan kejelasan akan fakta tersebut. Bahkan cerita rakyat yang menyatakan mitos tersebut tidak diketahui secara menyeluruh oleh semua masyarakat Komering, dan hanya berkembang di daerah Ogan komering Ulu, itupun tidak menyebar secara luas.

Karena jika dilihat dari segi Adat Istiadat, mulai dari rumah dan pakaian adat, makanan tradisional, hukum, tatacara adat serta kebiasaan masyarakat, sama sekali tidak ditemukan kemiripan yang identik yang dapat mendifinisikan bahwa adanya hubungan asal-usul antara Suku Komering dengan Suku batak di Sumatera Utara. Kemudian jika dilihat dari segi etnis atau ras, mulai dari bentuk wajah dan warna kulit, juga tidak ditemukan kemiripan yang identik, karena biasanya orang yang berasal dari Suku Batak memiliki rahang bawah yang lebih tegas dan cenderung membentuk segi dengan tulang alis dan tulang pipi yang sedikit lebih menonjol, berbeda dengan orang yang berasal dari Suku Komering yang memiliki ciri-ciri fisik yang lebih mirip dengan ras Melayu pada umumnya.

Apa yang melatar belakangi pendapat tersebut? lagi-lagi pertanyaan ini sering terngiang pada pikiran kami, bahkan mungkin pada anda semua sebagai pembaca. Dilihat dari segi Bahasa, apakah hanya dikarenakan adanya beberapa kosa kata dari masyarakat Suku Komering ada kemiripannya dengan Suku Batak di Sumatera Utara, jika itu yang mendasari pendapat tersebut, seberapa banyak kemiripan kosa kata yang ada? Kalau hanya terdapat 10 atau 15 kosa kata itu bukan merupakan bukti kuat yang dapat membenarkan pendapat tersebut.

Jika kita cermati dengan lebih rinci kemiripan kosa kata Bahasa Komering juga terdapat pada beberapa kosa kata bahasa sunda, diantaranya: jukut (Sunda) dengan jukuk (Komering) yang berarti rumput, mulang (Sunda dan Komering) yang berarti pulang, sireum (Sunda) dengan sorom (Komering) yang berarti semut, gancang (Sunda dan Komering) yang berarti cepat, na sebuah inbuhan yang digunakan bahasa sunda yang sama fungsinya dengan imbuhan nya dalam bahasa Indonesia juga digunakan di dalam Bahasa Komering, jelma (Sunda) dengan jelma (Komering) yang berarti manusia.

Tidak hanya dengan Suku Sunda, Bahasa Komering juga memiliki kesamaan kosa kata dengan Bahasa Melayu, baik itu Melayu Palembang maupun Melayu Piawai (Riau, Langkat, Serdang, Siak), Bahasa Aceh bahkan dengan Suku Jawa, diantara kesamaan kosa kata tersebut adalah: kawai (Melayu Piawai dan komering) yang berarti baju, sayu (Melayu Piawai dan Komering) yang berarti sedih atau pikiran jauh, biduk (Melayu Piawai dan Komering) yang berarti perahu, pinggan/pingan (Melayu Piawai dan Komering) yang berarti piring. Kemiripan dengan bahasa Aceh diantaranya, Apui (Aceh dan Komering) yang berarti api, Kulat/Kulak (Aceh dan Komering) yang berarti jamur, Tanoh (Aceh dan Komering) yang berarti tanah, Asu (Jawa dan Komering) yang berarti anjing, Rawang/Lawang (Jawa dan Komering) yang berarti pintu, Sapa (Jawa) dengan Sopo (Komering) yang serarti siapa. Demikian beberapa fakta yang ada, dan sebenarnya mungkin masih terdapat banyak lagi kemiripan kosa kata lainnya, yang tentunya tidak dapat kita sajikan semuanya dalam artikel ini. Dengan beberapa kemiripan kosa kata yang ada antara bahasa komering dengan beberapa Suku di Indonesia tersebut, apakah asal-usul Suku Komering bisa dikatakan ada hubungannya dengan dengan beberapa suku tersebut? sampai saat ini tidak ada yang dapat menyatakan hal tersebut tersebut dengan tegas, karena memang semua itu memerlukan bukti yang benar-benar bisa dipertanggung jawabkan.

Seperti yang kita ketahui bersama, di dalam Suku Komering itu sendiri terdapat paling tidak dua ragam intonasi suara dalam berbahasa (Dialek/Logat), Dialek Suku Komering Marga Bengkulah akan terdengar cenderung berintonasi lebih datar, halus serta tidak mendayu jika dibandingkan dengan Bahasa Komering Ulu (mendiami bagian hulu Sungai Komering) yang intonasinya akan cenderung lebih tegas, tinggi dan mendayu.

Kemudian jika masalah intonasi suara (Dialek/Logat) antara Bahasa Komering pada umumnya (Komering OKU) dibandingkan dengan Bahasa Batak yang memiliki kemiripan, yaitu sama-sama berintonasi dialek/logat yang tinggi dan tegas (keras/lantang) menjadi latar belakang pendapat yang mengatakan bahwa asal usul Suku Komering masih ada hubungan yang erat dengan Suku Batak di Sumatera Utara. Lalu bagaimana dengan kemiripan intonasi antara Bahasa Komering dengan Bahasa Bugis Sulawesi dan suku-suku di Indonesia timur diantaranya Flores, Maluku serta Timor, Dengan fakta tersebut apakah suku Komering bisa dikatakan ada hubungan asal usul yang sangat erat dengan suku-suku tersebut?

Tentu saja, tidak dengan semudah itu kita dapat berargumentasi dan mengeluarkan pendapat, apalagi pendapat itu sangat terkait dengan sejarah dan asal-usul suatu suku bangsa, jangan bermain-main dengan sebuah argumentasi yang nantinya akan merusak paradigma berfikir bagi para penerus generasi sebuah suku bangsa. Dalam hal ini tentunya kami tidak bermaksud untuk menyudutkan suatu pendapat atau argumentasi seseorang, namun setidaknya hal ini kami jadikan sebagai momen untuk mencoba meluruskan sebuah pendapat yang selama ini mulai beredar di masyarakat khususnya masyarakat Komering Ulu.

 

Hormat Kami:

PRABU KOMERING


Tulisan ini diambil dari sebuah sumber yang telah sedikit diperbaiki (diubah) oleh penulis.
Mohon maaf bila terdapat kekeliruan......................






by Pulau Gemantung on Thursday, June 17, 2010 at 2:31pm

Lambang Pulau Gemantung (Hanya Sebuah Kreasi)


Secara sederhana lambang Pulau Gemantung yang kami buat tidak semata-mata hanya dilatar belakangi akan unsur keindahan dan bentuk fisiknya semata. Namun dalam setiap goresan, gambar dan tulisan yang tertera pada lambang tersebut mengadung makna filosofi yang kami ambil dari kearifan dan kondisi Pulau Gemantung yang sebenarnya. Berikut penjelasannya:


Gambar sebuah bangunan yang didasari pada pondasi yang rata yaitu melambangkan kesamaan hak dan kewajiban warga/masyarakat untuk berkontribusi didalam pembangunan desa, serta sebagai lambang kebersamaan dari setiap individu warga/masyarakat Pulau Gemantung. Empat pilar yang menopang bangunan melambangkan empat buah desa bagian Pulau Gemantung yang terdiri dari Pulau Gemantung Ilir, Pulau Gemantung Induk, Pulau Gemantung Ulu dan Pulau Gemantung Darat. Atap bangunan yang berpalang silang adalah melambangkan identitas budaya lokal yang tetap dipegang teguh oleh warga/masyarakat Pulau Gemantung.


Gambar Dua kuntum tangkai padi yang melambangkan kesejahteraan dan keadilan.

Gambar Bulan dan Bintang melambangkan azas budaya yang bersendikan kepada Syariat Islam.


Seleyer (kain Panjang) yang bertuliskan "Bersatu dan Berjaya" melambangkan keutuhan visi dan misi yang diemban, guna memelihara persatuan dan mewujutkan kejayaan.


Gambar sebuah prisai yang melambangkan perlindungan akan unsur-unsur kearifan lokal sebagai identitas dan jatidiri warga/masyarakat Pulau Gemantung.


Tulisan "Pulau Gemantung" adalah melambangkan kebanggaan akan sebuah nama dan identitas diri yang patut disyukuri oleh setiap warga/masyarakat Pulau Gemantung.

Sebuah semboyan yang bertuliskan "Poda Ram Sahuwonan" yang artinya "Sesama kita saling peduli". Merupakan salah satu semboyan yang sangat dikenal dan memberikan semangat persatuan dan kesatuan masyarakat Pulau Gemantung.


Adapun tiga warna yang digunakan pada lambang ini adalah Hijau, Hitam dan Kuning Keemasan. Setiap warna tersebut mempunyai makna tersendiri.
Warna Hijau melambangkan kemurnian (nature/mature) dan kesahajaan yang dilandasi dengan nilai-nilai keislaman (Syariat).
Warna Hitam yang terdapat pada garis penegasan dan tulisan adalah melambangkan ketegasan dan kemandirian dalam berbuat dan berfikir.
Warna Kuning Keemasan adalah melambangkan keindahan, kemuliyaan dan kearifan resam budaya yang dipegang.

Demikian sekilas penjabaran lambang Pulau Gemantung yang kami buat, sebelumnya kami mohon maaf kepada seluruh petua adat, tokoh masyarakat dan para pemangku desa serta warga/masyarakat Pulau Gemantung pada umumnya, apabila terdapat banyak kekurangan dan penyalahgunaan nama dan makna yang kami suguhkan pada lambang ini.
Adapun lambang ini hanyalah bersifat "tidak formal" karena pembuatannya hanya melibatkan pemikiran dari pengurus/pengelola akun facebook Pulau Gemantung semata. Maka baik saran maupun kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan. 

HORMAT KAMI

PRABU KOMERING


Tulisan ini hanya sekedar penerus informasi, mudah-mudahan penulis yang telah membuat tulisan ini untuk pertama kalinya tidak merasa tersinggung dan berburuk sangka.

Kamahapan aman nyak wat salah, tulisan sija kuinjam mari tambah lamon sei pandai rik katoduh di     PULAU GEMANTUNG.
Wassalam.........................................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar